Pilih Edisi --
PIP Edisi Nov 2009 PIP Edisi Oct 2009 PIP Edisi Sep 2009 PIP Edisi Aug 2009 PIP Edisi Jul 2009 PIP Edisi Jun 2009 PIP Edisi May 2009 PIP Edisi Apr 2009 PIP Edisi Mar 2009 PIP Edisi Feb 2009 PIP Edisi Jan 2009 PIP Edisi Dec 2008 PIP Edisi Nov 2008 PIP Edisi Oct 2008 PIP Edisi Sep 2008 PIP Edisi Aug 2008 PIP Edisi Jul 2008 PIP Edisi Jun 2008 PIP Edisi May 2008 PIP Edisi Apr 2008 PIP Edisi Mar 2008 PIP Edisi Feb 2008 PIP Edisi Jan 2008 PIP Edisi Dec 2007 PIP Edisi Dec 2007 PIP Edisi Nov 2007 PIP Edisi Oct 2007 PIP Edisi Sep 2007 PIP Edisi Aug 2007 PIP Edisi Jul 2007 PIP Edisi Jun 2007 PIP Edisi May 2007 PIP Edisi Apr 2007 PIP Edisi Mar 2007 PIP Edisi Feb 2007 PIP Edisi Jan 2007 PIP Edisi Dec 2006 PIP Edisi Nov 2006 PIP Edisi Oct 2006 PIP Edisi Sep 2006 PIP Edisi Aug 2006 PIP Edisi Jul 2006 PIP Edisi Jun 2006 PIP Edisi May 2006 PIP Edisi Apr 2006 PIP Edisi Feb 2006
>> Swamitra Berkat Loajanan Makin Bersaing, Makin Untung
Dikepung sejumlah bank besar swasta dan pemerintah, Swamitra Berkat Loajanan justru makin eksis. Pihak manajemen bahkan sudah menyiapkan ekspansi usaha dengan membuka cabang baru di dua lokasi, Samarinda dan Tenggarong. KETIKA sejumlah cabang bank besar itu muncul di pasar tradisional Loajanan, Samarinda Sebrang, Kalimantan Timur, sempat ada kekhawatiran bahwa nasabah Swamitra Berkat bakal tergerus. Apalagi, personal lembaga keuangan mikro binaan Bank Bukopin ini sudah banyak yang dibajak. Alih-alih bangkrut, swamitra yang beroperasi sejak 1998 ini justru kian berkibar. Ibarat bola karet, makin kuat tekanan pasar yang dialami Swamitra Berkat, makin kuat pula semangat para pengelolanya untuk bertahan.
Jika dilihat dari perangkat dagang yang dimiliki swamitra ini, sebenarnya jauh dari memadai karena hanya mengandalkan tingkat bunga. Sementara perbankan yang beroperasi di pasar rakyat itu sudah memamerkan hadiah besar dan Anjungan Tunai Mandiri (ATM ). Sejumlah bank besar yang memasang outlet di pasar sepanjang 550 meter dengan jumlah pedagang sekitar 2000 orang itu antara lain Bank BRI Unit, Danamon Simpan Pinjam, Bank Mega Syariah, Bank Syariah Mandiri, Bank BTPN, serta BPD Syariah. Suasana pasar juga makin ramai dengan variasi komoditas yang dijajakan para pedagang. Sejumlah outlet telekomunikasi , seperti Telkomsel dan Satelindo menambah suasana pasar kian marak, apalagi dengan telah dibukanya jembatan Mahakam II oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Juli 2009.
Pendek kata, Pasar Loajanan bukanlah pasar kumuh dan becek seperti 10 tahun lalu ketika Swamitra Berkat berdiri. Waktu itu tidak ada saingan dan praktis swamitra ini melenggang sendirian. Dana talangan Bank Bukopin sebesar Rp 500 juta untuk biaya operasi awal swamitra ini nyaris tak tersentuh karena putaran dana masyarakat (pasar) sudah bisa diandalkan untuk membuat mesin usaha Swamitra Berkat hidup. Hasilnya, dalam tempo tiga tahun, pada 2001 Swamitra Berkat berhasil menyodok swamitra dengan pengumpulan dana terbesar di seluruh tanah air. Hingga kini prestasi tersebut tetap dipertahankan dengan jumlah simpanan masyarakat sebesar Rp 7,4 miliar dan pinjaman mencapai Rp 8,4 miliar. Jumlah masyarakat penabung di Swamitra berkat tercatat sebanyak 760 orang, sedangkan jumlah penabung mencapai 3200 orang.
Keunggulan Daerah
Lantas apa keunggulan atau selling point Swamitra Berkat sehingga mampu bersaing dengan sejumlah bank yang baru datang belakangan itu? “Kami punya keunggulan daerah dan kepercayaan, sehingga nasabah kami tetap setia datang ke swamitra,” kata Manajer Swamitra Berkat Agus Setiawan.
Keunggulan daerah yang dimaksud Agus, bahwa Swamitra Berkat merupakan lembaga keuangan yang boleh dibilang pertama kali didirikan di daerah tersebut. Dikelola dan diusahakan oleh putra-putri setempat. “Semua karyawan swamitra adalah orang sini, mereka tahu karakter nasabah dan budaya setempat. Selain itu, nasabah juga percaya kepada manajemen swamitra karena uangnya dikelola oleh orang daerah sendiri,’’ sambung Agus lagi.
Tetapi, Agus sendiri bukanlah putra daerah tersebut. Dia berasal dari Sukabumi, Jawa Barat. Lelaki kelahiran 8 Agustus 1965 ini merantau ke Loajanan pada 1998, bertepatan waktu itu dengan dibukanya penerimaan pegawai Swamitra Berkat. Jebolan SMA yang punya pengalaman kerja di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Nushamba itu mencoba mengadu nasib dengan mengajukan lamaran kerja ke Swamitra Berkat. Ia berhasil lulus dan diterima dengan posisi manajer operasi.
Dalam rentang 10 tahun berdirinya swamitra ini memang tidak bisa dilepaskan dengan nama Tarmizi (68). Ketua Koppas Loajanan ini adalah orang yang membidani lahirnya Swamitra Berkat. Sebagai putra asli daerah dan pengaruhnya yang kuat di pasar Loajanan, maka orang, terutama para pedagang, percaya dengan keberadaan Swamitra Berkat. “Masyarakat percaya dengan kita, karena kita mengelola dana mereka dengan bekerjasama dengan bank yang punya nama baik,’’ ungkap ayah tujuh orang anak ini.
Kendati tercatat sebagai pemilik Swamitra Berkat, namun Tarmizi juga menyediakan sejumlah tokonya untuk disewa oleh bank-bank swasta besar. “Makin banyak perbankan masuk ke daerah ini makin hidup ekonomi masyarakat, persaingan boleh saja asal berlangsung dengan jujur,’’ tukas dia.
Ekspansi
Sejumlah strategi diterapkan Swamitra Berkat agar tidak kalah bersaing dengan bank besar, salah satunya menekan tingkat suku bunga yang lebih rendah. “Ada yang bilang bunga swamitra kami tinggi, tidak juga. Standar kami adalah BRI Unit yang menempatkan bunga 2% untuk pinjaman di bawah Rp 50 juta. Nah, kami memasang 1,75% dan jika pinjaman di atas Rp 100 juta kami kenakan bunga 1,5%,’’ tutur ayah dua anak ini.
Tetapi kiat agar tetap bertahan di tengah persaingan yang ketat itu bukan hanya dengan mengintip suku bunga dari perbankan lain. Agus juga mencoba mengembangkan pasar ke tempat lain. “Kalau hanya mengandalkan nasabah di Loajanan saja kami bisa habis dilibas bank-bank besar itu yang berani melempar bunga pinjaman hingga 1,2%. Karenanya supaya tetap eksis kami kini mencari nasabah di luar pasar Loajanan,’’ sambung Agus. Strategi jemput bola itu, dengan mengerahkan tenaga marketing swamitra hingga ke Samarinda dan Tenggarong.
Bahkan dalam waktu dekat, sergah Agus, pihaknya segera membuka cabang di dua daerah yang relatif jauh dari Pasar Loajanan itu. Proses pengembangan cabang itu, masih menunggu persetujuan dari Bank Bukopin.
Setelah 10 tahun mengelola Swamitra Berkat, Agus mengaku mendapat banyak bekal ilmu perbankan dari Bank Bukopin. Ke depan, dia berharap swamitra di Kalimantan Timur dapat beroperasi secara on-line sehingga dapat memperbesar akses nasabah dimanapun mereka berada. Untuk kewenangan pinjaman swamitra yang kini ditetapkan sebesar Rp 10 juta, menurut Agus sudah saatnya ditingkatkan karena para pesaing sudah menerapkan kewenangan pinjaman hingga Rp 20 juta. Besarnya kewenangan pinjaman swamitra seyogyanya sebesar Rp 25 juta, agar swamitra mempunyai posisi tawar yang lebih kuat. Kalau swamitranya kerdil terus, yang rugi juga Bank Bukopin.
Upload Date 0
Article Counter 53,971
POLLING Polling tidak berhadiah 0 Responden Ditutup [ Lihat Semua Polling ]
MENGAPRESIASI PERAN DAERAH PENGGERAK KOPERASI Tiga puluh dua kabupaten/kota dan satu provinsi, yaitu Nusa Tenggara Barat mendapat penghargaan sebagai daerah yang sukses menggerakkan pertumbuhan koperasi. Apa saja kriteria untuk meraih rating dan predikat bergengsi itu?Topic: Nasional MEMBANGUN KEJAYAAN KOPERASI BANTEN Keberhasilan pembangunan koperasi di Banten, telah menghantarkan Gubernur Banten meraih penghargaan Satya Lencana Pembangunan, yang disematkan Menteri Koperasi dan UKM. Komitmen gubernur pada koperasi, memang terbukti besar.Topic: Daerah MARI MEMBERI “Rahasia kemakmuran adalah kedermawanan, karena dengan membagi kepada orang lain, hal baik yang akan diberikan dalam kehidupan kita, bahkan berkelimpahan.”
-- J. Donald Walters, penulis dan pengajar asal Rumania, tinggal di India.Topic: Manajemen >> DRS. FX SIMAN, KETUA INKOPDIT POLITISI OKE, PRAKTISI KOPERASI OYE FX Siman, begitu namanya disebut, se-
sungguhnya adalah seorang guru. Tapi
dibalik kesibukannya mengajar di sekolah, ia berhasil menempa diri sebagai po-
litisi, sekaligus praktisi koperasi.Topic: Kiprah KOPERASI PERTANIAN Redaksi: Silakan hubungi Inkoptan, Jl.Bekasi Timur IV No.3 A, Jatinegara, Jakarta Timur, Telp. 021-8503735
Topic: Dari Pembaca