Pilih Edisi --
PIP Edisi Nov 2009 PIP Edisi Oct 2009 PIP Edisi Sep 2009 PIP Edisi Aug 2009 PIP Edisi Jul 2009 PIP Edisi Jun 2009 PIP Edisi May 2009 PIP Edisi Apr 2009 PIP Edisi Mar 2009 PIP Edisi Feb 2009 PIP Edisi Jan 2009 PIP Edisi Dec 2008 PIP Edisi Nov 2008 PIP Edisi Oct 2008 PIP Edisi Sep 2008 PIP Edisi Aug 2008 PIP Edisi Jul 2008 PIP Edisi Jun 2008 PIP Edisi May 2008 PIP Edisi Apr 2008 PIP Edisi Mar 2008 PIP Edisi Feb 2008 PIP Edisi Jan 2008 PIP Edisi Dec 2007 PIP Edisi Dec 2007 PIP Edisi Nov 2007 PIP Edisi Oct 2007 PIP Edisi Sep 2007 PIP Edisi Aug 2007 PIP Edisi Jul 2007 PIP Edisi Jun 2007 PIP Edisi May 2007 PIP Edisi Apr 2007 PIP Edisi Mar 2007 PIP Edisi Feb 2007 PIP Edisi Jan 2007 PIP Edisi Dec 2006 PIP Edisi Nov 2006 PIP Edisi Oct 2006 PIP Edisi Sep 2006 PIP Edisi Aug 2006 PIP Edisi Jul 2006 PIP Edisi Jun 2006 PIP Edisi May 2006 PIP Edisi Apr 2006 PIP Edisi Feb 2006
‘Jihad’ Melawan Praktik Rentenir
Rentenir, hampir selalu ada di mana saja. Para pelepas uang dengan bunga menjerat itu, biasa memangsa kaum pelaku usaha mikro dan kecil. Tentu saja rentenir hadir dengan kesan sebagai penolong, yang siap mengulurkan tangan pada siapa saja yang sedang terdesak oleh kebutuhan dana.
Para pelaku UMK itu, tidak punya pilihan. Mereka memang membutuhkan dana cepat, yang bisa diperoleh nyaris tanpa prosedur. Kendati bu-
nganya selangit, mereka memang umumnya bisa mengembalikan. “Tapi, usaha mereka biasanya jalan di tempat, karena harus berbagi keuntungan dengan rentenir itu,” tandas H. Muhammad Basri, dengan nada geram.
M. Basri mengaku peka terhadap kemiskinan dan membenci apapun yang membuat orang tetap berada dalam kemiskinan, karena ia juga berasal dari keluarga petani miskin. “Dulu, saya sekolah setiap hari harus berjalan kaki sejauh lima kilometer,” kenangnya.
Kendati tahu keadaan orang tuanya sangat terbatas, Basri ngotot untuk meneruskan sekolah, sampai perguruan tinggi. Akibatnya, selama kuliah, ia harus mencari uang sendiri. “Berbagai usaha saya lakukan. Saya beruntung, karena akhirnya bisa menjadi guru sambil tetap kuliah,” ungkap ayah tiga putra dan putri ini, yang salah satunya sedang kuliah di ITB, Bandung.
Sekarang, sebagai Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, M. Basri berada di posisi yang sangat strategis untuk membebaskan pelaku UMK dari kemiskinan. “Buat saya, upaya memberantas praktik rentenis, sama dengan jihad,” cetus suami Ratu Yati Priyati itu, semangat.
M. Basri mengaku all out menjalankan tugasnya sebagai Kepala Dinas, karena ia merasa berkewajiban ikut berkontribusi aktif membangun Banten, tanah kelahirannya. Maklum, ia termasuk tokoh yang sibuk mempersiapkan kelahiran Provinsi Banten, sebagai salah satu sekretaris panitia. “Setelah berhasil memperjuangkan Banten menjadi provinsi, ya, kita harus bertanggung jawab untuk membangunnya, dong,” tutur M. Basri, “Kita harus membuktikan, bahwa pembentukan Provinsi Banten merupakan keputusan tepat.”
Namun, M. Basri menolak kalau dianggap menjadi pejabat di lingkungan Pemrov Banten, karena perannya di patinia pembentukan Provinsi Banten itu. Dengan memegang prinsip hidup easy going, membiarkan segala sesuatunya mengalir begitu saja, M. Basri memang bukan tipe sosok yang ambisius. Jabatan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM yang didudukinya sekarang ini, murni karena penilaian Gubernur Banten, yang memang menganggapnya layak mengemban tugas membangun koperasi dan UMKM di “tanah jawara” ini.
Upload Date 0
Article Counter 57,393
POLLING Polling tidak berhadiah 0 Responden Ditutup [ Lihat Semua Polling ]
SIBOLGA PUNYA KOPERASI BERPRESTASI Jika pejabat pembina sungguh-sungguh melakukan pembinaan, tidak mustahil koperasi tumbuh berkembang. Buktinya di Sibolga, yang koperasinya sempat
mati suri.Topic: Daerah KPRI DEPAG KABUPATEN TANGERANG BANGKIT SETELAH BANGKRUT DUA KALI Berpredikat sebagai “Koperasi Berprestasi Tingkat Nasional”. Itulah kini gelar yang disandang oleh KPRI Depag Kabupaten Tangerang.Topic: Kinerja URGENSI PEMBERDA YAAN KOPERASI-UKM “Saat ini, ditargetkan 70.000 unit koperasi disurvei untuk mengetahui apakah mereka cukup berkualitas, berkualitas, atau tidak berkualitas.
Topic: Wawasan MENTERI BARU MASALAH LAMA Koperasi dan UKM, masih belum beranjak dari masalah lama. Pelaku ekonomi rakyat ini belum lepas dari belenggu yang menyulitkan langkah ke tingkat perkembangan lebih tinggi. Apakah Menegkop anyar kali ini mampu membereskannya?Topic: Fokus >> SWAMITRA BERKAT LOAJANAN MAKIN BERSAING, MAKIN UNTUNG Dikepung sejumlah bank besar swasta dan pemerintah, Swamitra Berkat Loajanan justru makin eksis. Pihak manajemen bahkan sudah menyiapkan ekspansi usaha dengan membuka cabang baru di dua lokasi, Samarinda dan Tenggarong. Topic: Swamitra